Air Terjun Ini Ternyata Menyimpan Jejak Raja Thailand, Lokasinya Tak Jauh dari Pusat Bandung
Kalau ngomongin tempat bersejarah di Bandung, mungkin yang langsung kepikiran adalah Gedung Sate, Braga, atau kawasan Asia Afrika. Tapi ternyata ada satu spot yang lokasinya nggak jauh dari hiruk-pikuk Dago dan punya cerita yang lumayan bikin kaget. Namanya Curug Dago. Air terjun yang berada di kawasan Kecamatan Coblong ini bukan cuma menawarkan suasana hijau dan suara gemericik air, tapi juga menyimpan jejak dua raja dari Kerajaan Thailand. Di sekitar curug terdapat prasasti batu yang berkaitan dengan kunjungan Raja Chulalongkorn atau Rama V dan Raja Prajadhipok atau Rama VII. Jadi, kalau selama ini Curug Dago cuma dianggap sebagai air terjun kecil di tengah Bandung, ternyata ceritanya jauh lebih panjang dari yang kelihatan.
Beberapa hal yang bikin Curug Dago menarik:
- Pernah didatangi Raja Thailand. Raja Chulalongkorn (Rama V) tercatat mengunjungi Curug Dago pada 1896 dan 1901. Kunjungannya meninggalkan jejak berupa tulisan atau paraf pada batu yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Curug Dago.
- Ada jejak Raja Rama VII. Pada 12 Agustus 1929, Raja Prajadhipok (Rama VII), yang merupakan putra Raja Rama V, juga datang ke lokasi tersebut dan meninggalkan tanda pada prasasti.
- Lokasinya masih di kawasan Dago. Curug Dago berada di Jl. Cikalapa, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Jadi dari kawasan perkotaan, tempat ini sebenarnya cukup dekat dan bukan destinasi yang harus ditempuh berjam-jam.
- Air terjunnya memang nggak raksasa. Tingginya sekitar 10–12 meter menurut laporan terbaru. Justru suasana lembah, pepohonan, tebing, dan sejarahnya yang menjadi daya tarik utama.
- Bukan cuma soal wisata alam. Keberadaan prasasti membuat Curug Dago punya nilai sejarah hubungan Indonesia dan Thailand yang sudah berlangsung lebih dari satu abad. Bahkan kawasan ini pernah mendapat perhatian dari pihak Thailand untuk pelestarian peninggalannya.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah dan kondisi alamnya, Curug Dago terbentuk dari proses geologi yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik kawasan Bandung. Aliran Sungai Cikapundung kemudian mengikis batuan dan membentuk ceruk serta tebing yang menghasilkan air terjun. Jadi, bentuk Curug Dago bukan muncul begitu saja, melainkan hasil interaksi antara aktivitas geologi dan erosi sungai dalam waktu yang sangat panjang. Dari sudut pandang urban, keberadaan curug seperti ini juga cukup menarik karena berada di tengah kawasan kota yang sudah padat. Lanskap hijau di sekitar aliran sungai berfungsi sebagai ruang alami yang bisa memberi suasana berbeda dari lingkungan perkotaan. Namun, kondisi sungai tetap perlu diperhatikan karena kualitas air sangat dipengaruhi aktivitas manusia di wilayah hulu. Beberapa laporan juga pernah menyoroti persoalan sampah dan kualitas air Sungai Cikapundung di kawasan tersebut.
Pada akhirnya, Curug Dago bukan sekadar tempat buat cari udara adem atau foto-foto. Di balik air terjun yang ukurannya nggak terlalu besar, tersimpan cerita perjalanan dua raja Thailand yang meninggalkan jejak di Bandung lebih dari seabad lalu. Jadi, kalau lagi main ke kawasan Dago dan pengin menemukan sisi Bandung yang sedikit beda, Curug Dago bisa jadi salah satu tempat yang menarik buat dijelajahi—asal tetap jaga kebersihan dan menghormati peninggalan sejarahnya.